Minggu, 17 Oktober 2010

Sekilas Tentang Kamboja

Bahasa Kamboja (Khmer) termasuk bahasa yang sulit. Seperti kebanyakan bahasa di negara Asia lainnya – seperti Thailand, India, Cina, Jepang, dll, bahasa Kamboja memiliki skript tersendiri yang tidak dengan pas dapat ditulis dengan skript latin. Abjadnya lebih banyak dan kosa kata biasanya terdiri dari gabungan beberapa hurup hidup, menciptakan bunyi yang agak mirip dengan bahasa Aceh. Kesalahan pengucapan sedikit saja, atau kesalahan harkat, bisa menyebabkan orang salah faham atau bahkan tidak mengerti sama sekali.
Makanan juga merepotkan karena cita rasa masakan tradisional di sini beda dengan selera Indonesia. Kebanyakan lauk terasa asam, kecut atau manis, dan beraroma lain karena dicampur dengan daunan husus (tapi masakan modern yang ada di rumah makan yang lebih baik tidak seperti ini). Ada juga menu yang aneh-aneh seperti telur bebek yang hampir menetas (mereka sebut pong tie k’oon). Telur yang didalamnya sudah ada cabang bayi bebek ini biasanya direbus dan disajikan dengan sejenis salad dan beberapa saus. Ada juga keong rebus, jangkrik goreng dan laba-laba goreng. Mungin pengalaman pahit dan kelangkaan makanan ketika hidup di masa kepemimpinan Khmer Rouge membuat rakyat Kamboja mudah beradaptasi dengan berbagai jenis makanan.


Tapi bagi seorang Muslim, yang lebih menyusahkan lagi adalah karena hampir tidak ada rumah makan, mulai dari kedai kaki lima hingga restoran mewah, yang tidak menyediakan daging babi (satc cruk), dan jarang ada jenis makanan tanpa campuran daging babi, termasuk roti isi, mie, sup dan nasi goreng. Berbeda dengan beberapa negara Eropa seperti Belanda dan Perancis dimana seorang Muslim tidak sukar menemukan masakan Muslim (di restoran Indonesia, Maroko, atau Alzajair), Kamboja tidak memberikan banyak pilihan bagi Muslim. Di Phnom Penh, ibu kota Kamboja, hanya ada satu restoran Indonesia, Bali Café. Selain kedai yang terdapat di pemukiman komunitas Muslim, di Phnom Penh praktis tidak ada tempat yang menyediakan makanan Muslim.
Dengan pilihan yang sangat terbatas, ada satu jenis café Kamboja yang relatif aman bagi seorang Muslim. Mereka menyebutnya satc ko phneum pleung - tempat bakar-bakar daging sapi. Barbeque ala Kamboja ini ada di beberapa sudut kota Phnom Penh. Pelanggan hanya diberi bahan mentah: daging sapi, cumi-cumi atau udang plus sayuran mentah seperti timun, paprika, wortel, kol, bawang bombay dan beberapa jenis daun lalapan. Di masing-masing meja disediakan kompor gas bakar kecil dan bahan-bahan tadi, lalu pelanggan mengolah sendiri bahan tersebut menurut seleranya.
Untuk masalah makan, jalan teraman, namun tidak praktis, adalah self-catering. Daging yang disembelih secara Islam terdapat di tiga pasar di Phnom Penh, dan ikan ada dijual di semua pasar tradisional. Jalan aman lainnya adalah mencoba bertahan hidup dengan mengkonsumsi roti, keju dan susu yang dapat di beli dari beberapa super market dan bakery di pusat kota.
Remaja puterinya? Ini termasuk salah satu keanehan disini. Secara umum, ada dua jenis remaja puteri disini, remaja puteri rumahan dan remaja puteri murahan. Perbedaan antara keduanya ibarat langit dengan bumi. Di antara kedua jenis ini juga ada, tetapi tidak banyak. Mayoritas remaja puteri Kamboja adalah remaja puteri rumahan yang sangat konservatif dalam masalah hubungan dengan cowok. Mereka sangat menjaga sikap, menjaga norma, dan kelihatan untouchable. Perilaku seperti ini merupakan bagian dari refleksi pepatah tradisional mereka “Perempuan ibarat kain putih” yang tidak akan pernah kembali seputih asalnya jika telah ternoda. Jika remaja puteri rumahan ini diajak jalan, dia pasti bawa teman-teman, adik atau kakaknya, jadi seperti acara kenduri/slametan. Makan atau nonton berdua dengan lawan jenis yang bukan muhrim bukan merupakan tradisi disini. Meskipun ada sebagian kecil yang melakukannya, tapi yang pasti itu bukan mainstream, dan remaja puteri yang mau diajak makan atau nonton berdua dicap srey ot la’or, cewek nakal.
Remaja puteri jenis kedua, remaja puteri murahan (komersial), juga lumayan banyak (satu penelitian menunjukkan bahwa di Phnom Penh, dengan populasi sekitar satu juta orang, terdapat 10.000 – 20.000 pekerja seks komersial/PSK). PSK ini ada di banyak tempat mulai dari rumah bordil, panti pijat, hotel, guest house, bar, karaoke room, café, hingga di kedai kopi. Dengan hanya berjalan kaki lebih kurang 20 menit dari sudut mana saja di Phnom Penh, setiap orang mungkin akan menemukan tempat seperti ini. Sebagian remaja puteri jenis ini memang PSK, sebagiannya lagi cuma pelayan restoran, bar girl, tukang pijat, atau teman nyanyi di karaoke tapi banyak yang siap berbisnis mesum. Ini salah satu penyebab tingginya tingkat infeksi HIV di negara ini (penelitian mengindikasikan saat ini 200.000 orang terinfeksi HIV di Kamboja, jumlah yang sangat tinggi dibandingkan dengan total populasi yang hanya 13.5 juta orang).
Berada dalam satu wilayah regional Asia Tenggara, Kamboja memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. Wajah penduduk asli Kamboja bisa dikatakan sama dengan kebanyakan orang Indonesia, kecuali keturunan Cina atau Vietnam yang juga ada disini. Suasana alamnya juga hampir sama, termasuk cuacanya, daratannya, tumbuh-tumbuhan dan satwa. Secara fisik orang Indonesia mungkin tidak akan merasa berada diluar negeri ketika berada di negeri ini. Budayanya juga banyak kemiripan. Banyak kostum penari tradisional Kamboja yang mirip dengan tarian kostum tarian Bali. Dan Angkor Wat yang sangat mengagumkan itu juga mirip dengan Borobudur dan Prambanan. Ada hubungan historis yang erat antara Indonesia dan Kamboja di masa dinasti Jayavarman.
Sejarah politisnya juga ada kemiripan. Di Indonesia pernah terjadi pembantaian terhadap warga yang dianggap komunis. Sepuluh tahun setelah tragedi di Indonesia, di Kamboja juga terjadi pembantaian terhadap hampir 2 juta orang dalam kurun waktu empat tahun, 1975-1979, oleh komunis Khmer Rouge yang dipimpin Pol Pot. Pembantaian itu bukan hanya terhadap manusia (yang menjadi target utamanya adalah orang terpelajar, orang kota, dan tentara pemerintah sebelumnya beserta seluruh anggota keluarganya), tapi juga terhadap sistem sosial dan politis. Semua sekolah ditutup, praktek keagamaan dilarang, tekhnologi dihancurkan, kekerabatan ditiadakan, dan organisasi dibubarkan. Setiap orang, termasuk anak umur 6 tahun, dipaksa membuka hutan, mengolah lahan pertanian padi dan buat irigasi. Yang membangkang pasti (istilah mereka) di re-educated, bukan dididik tapi dibunuh. Khmer Rouge punya semboyan “to keep you no gain, to kill you no loose” (Membiarkan kamu hidup tidak ada gunanya, membunuhmu tidak ada ruginya); dan “to destroy ten comrades is better than to keep one enemy” (Membunuh sepuluh orang teman lebih bagus dari pada membiarkan seorang musuh hidup). Makan dijatah secara komunal dan setiap orang hanya dapat bubur nasi, kecuali anggota Khmer Rouge yang bisa makan normal di rumah atau baraknya. Kelaparan, penyakit, dan kematian menjadi pemandangan setiap hari pada masa itu. Saat itu Kamboja seolah olah hilang dari peta dunia, dan periode itu disebut Year Zero.
Negara ini memang baru saja mencoba mulai masuk kembali ke peradaban normal, dan sangat tergantung dengan bantuan lembaga internasional dan negara donor. Tahun 2001 ada sebanyak 482 organisasi internasional dan LSM yang terdaftar dalam Cooperation Committee for Cambodia, dan ini belum mencakup seluruh organisasi yang bekerja sama membantu negara ini. Mungkin ini salah satu penjelasan mengapa LSM (Ongka) lokal, nasional, regional dan internasional memiliki privilege tersendiri dan disegani di negara ini. Plat kenderaannya dibuat khusus, warna biru tua, dan kenderaan seperti ini bebas dari razia polisi lalu lintas.
Dibandingkan dengan Indonesia, Kamboja lebih parah dalam banyak hal. Pendapatan perkapita masyarakat disini (US$ 260) tidak sampai setengah dari pendapatan perkapita penduduk Indonesia (US$ 560, data tahun 2000). Kesenjangan sosial kelihatan lebih menyolok (di Phnom Penh, Land Cruiser kelihatan seperti Kijang Kapsul di banyak kota di Indonesia, tapi setiap saat kita juga lihat banyak penduduk kota naik sepeda motor Astuti, dan pengemis – termasuk orang tua dan anak jalanan – ada di setiap sudut jalan). Fasilitas umum tidak memadai (rumah sakit yang dianggap bagus hanya ada di Phnom Penh, kereta api hanya kelas ekonomi, ATM hampir tidak ada, telephon umum sangat terbatas, bis umum hanya melayani angkutan antar kota dan provinsi, banyak jalan belum beraspal – apalagi kalau sudah di luar Phnom Penh). Supremasi hukum sangat lemah. Korupsi menjadi tradisi. Senjata api dan narkoba bukan barang langka.
Tapi bagaimanapun, kejanggalan dan ketimpangan dalam satu sistem sosial hanya terasa ketika seseorang bisa melakukan perbandingan. Bagi masyarakat Kamboja yang telah mengalami masa sulit di masa perang yang berkepanjangan dan pemerintahan Khmer Rouge, kehidupan di Kamboja saat ini jelas jauh lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar